Waktu
menunjukan pukul jam tujuh pagi. Aku sudah bangun seperti biasa. Meski
hari ini tidak ada kelas yang harus aku sambangi, bangun pagi terlanjur menjadi
rutinitas bagi ku.
Sambil melangkahkan kaki menuju dapur
untuk membuat secangkir kopi di pagi ini, masih tergambar jelas bagaimana aku
habiskan hari ku bersama Sandra kemarin. Mahasiswi ceria yang baru saja aku
kenal. Terkadang aku senyum sendiri jika mengingat kelakuannya yang sangat
menghibur. Seperti orang gila aku sekarang. Aku gelengkan kepala rasa tidak
percaya atas apa yang sudah aku alami kemarin. Bersama wanita berdua
menghabiskan waktu bersama masih hal baru dalam hidupku. Aku tersenyum lagi.
Ku sandarkan tubuh yang masih lemas
ini di bangku teras depan kamar kosan ku. Sambil sesekali menghisap rokok
dalam-dalam. Aku memikirkan sedang apa Sandra sekarang. Hmm, apa mungkin aku
kasmaran? Ah, sepertinya tidak. Aku hanya belum terbiasa seperti ini. Pertanyaan
pertanyaan yang begitu cepat muncul dalam benak lalu terjawab dengan sendirinya
di tempat yang sama. Sebaiknya aku tidak memikirkan itu.
“Heh, bengong aja lo?” Rahman, teman
sebelah kamarku mengagetkanku dengan lamunan ku. “Gak kuliah lo, Brong?”
“Eh, enggak Man, Libur. Lo mau
ngampus?”
“Iya nih, ada kuis. Eh bagi rokok
dong, Brong.” Rahman lantas mengambil bungkus rokok yang sengaja aku letakan
begitu saja di meja. Diambilnya satu batang, dibakar dan dihisapnya pelan.
“Gue jalan dulu ya, Brong…”
Aku menganggukan kepala. Anak itu
seperti biasa, hanya menyapa jika ada maunya, pagi ini rokok, entah apa
berikutnya. Aku tidak memedulikannya. Kembali aku sandarkan kepala ke bangku
rotan ini. Mencoba sedikit memejamkan mata.
“Brong, Brong!” teriak Rahman dari
lantai bawah. Karena terkejut dengan panggilan tersebut, akupun langsung
berlari kearah balkon. Memang kamar kosanku terletak dilantai dua, dan dari
balkon di depan kamarku bisa melihat langsung ke bawah, ke halaman dan gerbang
masuk kosan.
“Kenapa lagi, Man?” tanyaku setengah
berteriak dari lantai atas.
“Ini nih ada yang nyari…!” balas
Rahman sembari berjalan menuju gerbang.
Aku coba mengamati ada siapa di
gerbang. Siapa yang mencariku sepagi ini. Aku kerutkan dahi dan astaga,
ternyata Sandra. Orang yang sedang aku lamunkan sedari bangun tidur, sekarang
berdiri dengan manis sambil tersenyum padaku dari luar gerbang kosan. Sandra
melambaikan tangannya padaku. Tanpa menunggu lama segera aku berlari ke bawah.
“Hai, Jambrong…” sapa Sandra sambil
tersenyum. Penampilannya di pagi hari begitu memesona. Dengan kaos polos
berwarna putih, skinny jeans hitam,
sudah cukup membuatku menganga melihatnya. Ditambah rambut panjangnya yang kali
ini dikuncir rapi, membuatnya terlihat lebih feminism ketimbang kemarin.
“Hai, Sandra. Ada apa ini pagi pagi
udah ke kosan Gue?” tanya ku sambil mengatur napas. Lelah juga jika harus
mendadak bergegas menuruni anak tangga meskipun hanya satu lantai.
“Hehehe…Enggak ada apa apa kok. Ini
Gue cuma mau bawain sarapan buat lo. Pasti belum sarapan kan?” ujar Sandra
sambil mengeluarkan kantong plastik dari dalam tasnya. “Di depan kosan Gue, ada
warung yang jual nasi uduk. Enak deh, dan lo harus coba. Belum sarapan kan?”
Aku mengangguk. Tanpa melihat
penampilanku sendiri saat itu, aku yakin mukaku sudah memerah atas perlakuan
Sandra.
“Lo emang gak ada kelas, San?”
“Enggak ada, tadi pagi pagi udah
bangun tapi dapet sms katanya kelas gue dibatalin…” jawab Sandra sambil tertawa
kecil. “Lo sendiri gak kuliah, Brong?” tambah Sandra.
“Enggak…” aku menggelengkan kepala.
“Gue emang libur, San…”
Aku bisa lihat bagaimana cerianya
senyum Sandra. Menenangkan.
“Masuk yuk. Jangan di depan pager
gini. Kita makan nasi uduknya berdua di teras kamar gue, mau?” dalam hati aku
berdo’a agar Sandra mengiyakan tawaranku kali ini.
“Hmm. Emang gak apa apa nih gue cewek
masuk ke kosan cowok gini?” Sandra terlihat agak sungkan dengan tawaranku. Aku
bisa mengerti. Tidak semua kosan pria bisa menerima tamu wanita semaunya.
“Santai aja, San. Di lantai bawah ini
juga kosan cewek kok. Di sini cowok cewek campur. Jadi gak apa apa. Lagian kan
kita makannya di teras, bukan di kamar…” jawabku.
“Yauda deh…” Sandra mengganggukan
kepalanya. Tidak bisa aku gambarkan bagaimana senangnya aku saat itu. Hanya
bisa tersenyum, senyum paling bahagia yang pernah aku buat.
Aku jalan lebih dulu menaiki tangga. Tidak
ada obrolan atau basa basi. Kita berdua terlihat canggung dengan situasi yang
sedang kita hadapi. Sesampainya di teras, aku meminta Sandra untuk duduk
sementara aku mencari piring di dapur untuk makan.
Aku kembali dari dapur. Lalu duduk
disamping Sandra.
“Lo dateng ke kosan gue, gak takut
gue belom bangun atau udah jalan gitu ke kampus, San” tanyaku untuk membuka
obrolan.
“Yah, baru jam segini. Kalopun lo
masuk kelas jam delapan. Paling sekarang lagi siap siap. Jadi sempet kan buat
sarapan…”
“Kalo gue belom bangun?”
“Hmm, paling gue titipin nih nasi
uduknya ke bapak kosan biar dikasih ke lo kalo lo udah bangun…”
“Kalo gue gak bangun bangun?”
“Ya lo mati lah, bego!”
Kami pun tertawa dengan pertanyaan
bodoh yang aku ajukan dan jawaban Sandra yang begitu spontan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar