Jumat, 06 Juli 2012

Alunan Mentari #10


Waktu  menunjukan pukul jam tujuh pagi. Aku sudah bangun seperti biasa. Meski hari ini tidak ada kelas yang harus aku sambangi, bangun pagi terlanjur menjadi rutinitas bagi ku.

Sambil melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat secangkir kopi di pagi ini, masih tergambar jelas bagaimana aku habiskan hari ku bersama Sandra kemarin. Mahasiswi ceria yang baru saja aku kenal. Terkadang aku senyum sendiri jika mengingat kelakuannya yang sangat menghibur. Seperti orang gila aku sekarang. Aku gelengkan kepala rasa tidak percaya atas apa yang sudah aku alami kemarin. Bersama wanita berdua menghabiskan waktu bersama masih hal baru dalam hidupku. Aku tersenyum lagi.

Ku sandarkan tubuh yang masih lemas ini di bangku teras depan kamar kosan ku. Sambil sesekali menghisap rokok dalam-dalam. Aku memikirkan sedang apa Sandra sekarang. Hmm, apa mungkin aku kasmaran? Ah, sepertinya tidak. Aku hanya belum terbiasa seperti ini. Pertanyaan pertanyaan yang begitu cepat muncul dalam benak lalu terjawab dengan sendirinya di tempat yang sama. Sebaiknya aku tidak memikirkan itu.

“Heh, bengong aja lo?” Rahman, teman sebelah kamarku mengagetkanku dengan lamunan ku. “Gak kuliah lo, Brong?”

“Eh, enggak Man, Libur. Lo mau ngampus?”

“Iya nih, ada kuis. Eh bagi rokok dong, Brong.” Rahman lantas mengambil bungkus rokok yang sengaja aku letakan begitu saja di meja. Diambilnya satu batang, dibakar dan dihisapnya pelan.

“Gue jalan dulu ya, Brong…”

Aku menganggukan kepala. Anak itu seperti biasa, hanya menyapa jika ada maunya, pagi ini rokok, entah apa berikutnya. Aku tidak memedulikannya. Kembali aku sandarkan kepala ke bangku rotan ini. Mencoba sedikit memejamkan mata.

“Brong, Brong!” teriak Rahman dari lantai bawah. Karena terkejut dengan panggilan tersebut, akupun langsung berlari kearah balkon. Memang kamar kosanku terletak dilantai dua, dan dari balkon di depan kamarku bisa melihat langsung ke bawah, ke halaman dan gerbang masuk kosan.

“Kenapa lagi, Man?” tanyaku setengah berteriak dari lantai atas.

“Ini nih ada yang nyari…!” balas Rahman sembari berjalan menuju gerbang.

Aku coba mengamati ada siapa di gerbang. Siapa yang mencariku sepagi ini. Aku kerutkan dahi dan astaga, ternyata Sandra. Orang yang sedang aku lamunkan sedari bangun tidur, sekarang berdiri dengan manis sambil tersenyum padaku dari luar gerbang kosan. Sandra melambaikan tangannya padaku. Tanpa menunggu lama segera aku berlari ke bawah.

“Hai, Jambrong…” sapa Sandra sambil tersenyum. Penampilannya di pagi hari begitu memesona. Dengan kaos polos berwarna putih, skinny jeans hitam, sudah cukup membuatku menganga melihatnya. Ditambah rambut panjangnya yang kali ini dikuncir rapi, membuatnya terlihat lebih feminism ketimbang kemarin.

“Hai, Sandra. Ada apa ini pagi pagi udah ke kosan Gue?” tanya ku sambil mengatur napas. Lelah juga jika harus mendadak bergegas menuruni anak tangga meskipun hanya satu lantai.

“Hehehe…Enggak ada apa apa kok. Ini Gue cuma mau bawain sarapan buat lo. Pasti belum sarapan kan?” ujar Sandra sambil mengeluarkan kantong plastik dari dalam tasnya. “Di depan kosan Gue, ada warung yang jual nasi uduk. Enak deh, dan lo harus coba. Belum sarapan kan?”

Aku mengangguk. Tanpa melihat penampilanku sendiri saat itu, aku yakin mukaku sudah memerah atas perlakuan Sandra.

“Lo emang gak ada kelas, San?”

“Enggak ada, tadi pagi pagi udah bangun tapi dapet sms katanya kelas gue dibatalin…” jawab Sandra sambil tertawa kecil. “Lo sendiri gak kuliah, Brong?” tambah Sandra.

“Enggak…” aku menggelengkan kepala. “Gue emang libur, San…”

Aku bisa lihat bagaimana cerianya senyum Sandra. Menenangkan.

“Masuk yuk. Jangan di depan pager gini. Kita makan nasi uduknya berdua di teras kamar gue, mau?” dalam hati aku berdo’a agar Sandra mengiyakan tawaranku kali ini.

“Hmm. Emang gak apa apa nih gue cewek masuk ke kosan cowok gini?” Sandra terlihat agak sungkan dengan tawaranku. Aku bisa mengerti. Tidak semua kosan pria bisa menerima tamu wanita semaunya.

“Santai aja, San. Di lantai bawah ini juga kosan cewek kok. Di sini cowok cewek campur. Jadi gak apa apa. Lagian kan kita makannya di teras, bukan di kamar…” jawabku.

“Yauda deh…” Sandra mengganggukan kepalanya. Tidak bisa aku gambarkan bagaimana senangnya aku saat itu. Hanya bisa tersenyum, senyum paling bahagia yang pernah aku buat.

Aku jalan lebih dulu menaiki tangga. Tidak ada obrolan atau basa basi. Kita berdua terlihat canggung dengan situasi yang sedang kita hadapi. Sesampainya di teras, aku meminta Sandra untuk duduk sementara aku mencari piring di dapur untuk makan.

Aku kembali dari dapur. Lalu duduk disamping Sandra.

“Lo dateng ke kosan gue, gak takut gue belom bangun atau udah jalan gitu ke kampus, San” tanyaku untuk membuka obrolan.

“Yah, baru jam segini. Kalopun lo masuk kelas jam delapan. Paling sekarang lagi siap siap. Jadi sempet kan buat sarapan…”

“Kalo gue belom bangun?”

“Hmm, paling gue titipin nih nasi uduknya ke bapak kosan biar dikasih ke lo kalo lo udah bangun…”

“Kalo gue gak bangun bangun?”

“Ya lo mati lah, bego!”

Kami pun tertawa dengan pertanyaan bodoh yang aku ajukan dan jawaban Sandra yang begitu spontan.

Hari yang indah baru saja dimulai, sepertinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar