Jumat, 06 Juli 2012

Alunan Mentari #10


Waktu  menunjukan pukul jam tujuh pagi. Aku sudah bangun seperti biasa. Meski hari ini tidak ada kelas yang harus aku sambangi, bangun pagi terlanjur menjadi rutinitas bagi ku.

Sambil melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat secangkir kopi di pagi ini, masih tergambar jelas bagaimana aku habiskan hari ku bersama Sandra kemarin. Mahasiswi ceria yang baru saja aku kenal. Terkadang aku senyum sendiri jika mengingat kelakuannya yang sangat menghibur. Seperti orang gila aku sekarang. Aku gelengkan kepala rasa tidak percaya atas apa yang sudah aku alami kemarin. Bersama wanita berdua menghabiskan waktu bersama masih hal baru dalam hidupku. Aku tersenyum lagi.

Ku sandarkan tubuh yang masih lemas ini di bangku teras depan kamar kosan ku. Sambil sesekali menghisap rokok dalam-dalam. Aku memikirkan sedang apa Sandra sekarang. Hmm, apa mungkin aku kasmaran? Ah, sepertinya tidak. Aku hanya belum terbiasa seperti ini. Pertanyaan pertanyaan yang begitu cepat muncul dalam benak lalu terjawab dengan sendirinya di tempat yang sama. Sebaiknya aku tidak memikirkan itu.

“Heh, bengong aja lo?” Rahman, teman sebelah kamarku mengagetkanku dengan lamunan ku. “Gak kuliah lo, Brong?”

“Eh, enggak Man, Libur. Lo mau ngampus?”

“Iya nih, ada kuis. Eh bagi rokok dong, Brong.” Rahman lantas mengambil bungkus rokok yang sengaja aku letakan begitu saja di meja. Diambilnya satu batang, dibakar dan dihisapnya pelan.

“Gue jalan dulu ya, Brong…”

Aku menganggukan kepala. Anak itu seperti biasa, hanya menyapa jika ada maunya, pagi ini rokok, entah apa berikutnya. Aku tidak memedulikannya. Kembali aku sandarkan kepala ke bangku rotan ini. Mencoba sedikit memejamkan mata.

“Brong, Brong!” teriak Rahman dari lantai bawah. Karena terkejut dengan panggilan tersebut, akupun langsung berlari kearah balkon. Memang kamar kosanku terletak dilantai dua, dan dari balkon di depan kamarku bisa melihat langsung ke bawah, ke halaman dan gerbang masuk kosan.

“Kenapa lagi, Man?” tanyaku setengah berteriak dari lantai atas.

“Ini nih ada yang nyari…!” balas Rahman sembari berjalan menuju gerbang.

Aku coba mengamati ada siapa di gerbang. Siapa yang mencariku sepagi ini. Aku kerutkan dahi dan astaga, ternyata Sandra. Orang yang sedang aku lamunkan sedari bangun tidur, sekarang berdiri dengan manis sambil tersenyum padaku dari luar gerbang kosan. Sandra melambaikan tangannya padaku. Tanpa menunggu lama segera aku berlari ke bawah.

“Hai, Jambrong…” sapa Sandra sambil tersenyum. Penampilannya di pagi hari begitu memesona. Dengan kaos polos berwarna putih, skinny jeans hitam, sudah cukup membuatku menganga melihatnya. Ditambah rambut panjangnya yang kali ini dikuncir rapi, membuatnya terlihat lebih feminism ketimbang kemarin.

“Hai, Sandra. Ada apa ini pagi pagi udah ke kosan Gue?” tanya ku sambil mengatur napas. Lelah juga jika harus mendadak bergegas menuruni anak tangga meskipun hanya satu lantai.

“Hehehe…Enggak ada apa apa kok. Ini Gue cuma mau bawain sarapan buat lo. Pasti belum sarapan kan?” ujar Sandra sambil mengeluarkan kantong plastik dari dalam tasnya. “Di depan kosan Gue, ada warung yang jual nasi uduk. Enak deh, dan lo harus coba. Belum sarapan kan?”

Aku mengangguk. Tanpa melihat penampilanku sendiri saat itu, aku yakin mukaku sudah memerah atas perlakuan Sandra.

“Lo emang gak ada kelas, San?”

“Enggak ada, tadi pagi pagi udah bangun tapi dapet sms katanya kelas gue dibatalin…” jawab Sandra sambil tertawa kecil. “Lo sendiri gak kuliah, Brong?” tambah Sandra.

“Enggak…” aku menggelengkan kepala. “Gue emang libur, San…”

Aku bisa lihat bagaimana cerianya senyum Sandra. Menenangkan.

“Masuk yuk. Jangan di depan pager gini. Kita makan nasi uduknya berdua di teras kamar gue, mau?” dalam hati aku berdo’a agar Sandra mengiyakan tawaranku kali ini.

“Hmm. Emang gak apa apa nih gue cewek masuk ke kosan cowok gini?” Sandra terlihat agak sungkan dengan tawaranku. Aku bisa mengerti. Tidak semua kosan pria bisa menerima tamu wanita semaunya.

“Santai aja, San. Di lantai bawah ini juga kosan cewek kok. Di sini cowok cewek campur. Jadi gak apa apa. Lagian kan kita makannya di teras, bukan di kamar…” jawabku.

“Yauda deh…” Sandra mengganggukan kepalanya. Tidak bisa aku gambarkan bagaimana senangnya aku saat itu. Hanya bisa tersenyum, senyum paling bahagia yang pernah aku buat.

Aku jalan lebih dulu menaiki tangga. Tidak ada obrolan atau basa basi. Kita berdua terlihat canggung dengan situasi yang sedang kita hadapi. Sesampainya di teras, aku meminta Sandra untuk duduk sementara aku mencari piring di dapur untuk makan.

Aku kembali dari dapur. Lalu duduk disamping Sandra.

“Lo dateng ke kosan gue, gak takut gue belom bangun atau udah jalan gitu ke kampus, San” tanyaku untuk membuka obrolan.

“Yah, baru jam segini. Kalopun lo masuk kelas jam delapan. Paling sekarang lagi siap siap. Jadi sempet kan buat sarapan…”

“Kalo gue belom bangun?”

“Hmm, paling gue titipin nih nasi uduknya ke bapak kosan biar dikasih ke lo kalo lo udah bangun…”

“Kalo gue gak bangun bangun?”

“Ya lo mati lah, bego!”

Kami pun tertawa dengan pertanyaan bodoh yang aku ajukan dan jawaban Sandra yang begitu spontan.

Hari yang indah baru saja dimulai, sepertinya.

Senin, 11 Juni 2012

Alunan Mentari #9

"Wah,becanda lo Ci".Aku gelagapan mendengar perkataannya barusan.

"Emang,weeeeek" dia mengejekku sambil mencubit gemas pipiku.

Oh sudahlah.ini memang becandaan khas Prisci.Semenjak aku masih bersama Sisil,Prisci selalu menggodaku.Yaa..aku tau dia cuma becanda.Jadi aku ga pernah ambil pusing soal becandaannya itu.Tapi kenapa yang satu ini....aneh.

Sudah satu jam lebih kami menunggu kereta.Kalaupun telat.ini udah superdupermegagiga telat.Emang  sih udah bukan hal yang aneh kalo kereta telat.hmmmm.....aku melihat Prisci.manyun.sambil mengetik-ngetik di BB nya.

"Kenapa manyun ci?Pasti mantanlu ganggu ya?"

"Sotoy lu.hahaha." lalu,Prisci menghela napas panjang.

uh oh,jangan-jangan dia mau membicarakan sesuatu yang ngga ngenakin.

"Daryl"

"Hah? apaan.tumben manggil gue lengkap begitu.hahaha"

 "soal Sis......"


*TENG TONG TENG TONG*

"Kereta tujuan bogor dari arah jakarta akan segera tiba di peron 1"

Sebelum aku memperhatikan omongan Prisci,aku sudah kaget sama suara toa yang...persis di sebelah ku.Aku hanya terkekeh saja memikirkan siapakah orang gila yang menaruh toa di sebelah bangku tunggu.

Pintu kereta itu berhenti persis didepanku dan Prisci.Whoaa..hoki juga ku pikir.Tanpa basa-basi aku dan Prisci mencari tempat duduk.Kebetulan siang itu sedikit sekali penumpang kereta itu.Yah mungkin karena memang masih jam kantor.

Ah..itu.Tak lama aku menemukan tempat duduk.Aku kemudian menarik tangan Prisci.

"Tuh kosong ci"

Tak lama setelah kami duduk.aku teringat sepertinya tadi Prisci mau membicarakan sesuatu.Namun aku urungkan niatku untuk menanyakan hal itu.Karena aku tau,Prisci bakal ngerjain lagi.hmmmmm....

"I haven't heard anything since you broke up with Sisil.How's your life?Anything good?"

 "Nope.gitu-gitu aja.gue cuma ngejalanin rutinitas aja kaya biasa.toh gue melakukan sesuatu yang gila jg ga bakal bikin Sisil balik kan"

"Oh....gitu doang?Kirain lo mencoba bunuh diri gitu.hahaha"

"HEH Sembarangaaaaan.Lu kira gue sudi apa nama gue masuk ke tabloid lampu merah?hahahah"

Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai tak terasa kalau kami sudah sampai bogor.

"Sampe nih.mau kemana kita?" Tanyaku.

"Puncak.ke vila bokap gue."


"hah?.mau ngapain dah"

"udah ikut aja"

Mau nolak juga udah kepalang tanggung sampe bogor.yaudah lah.ikut aja.toh dia yang bayarin ini.Otak matreku pun keluar.hahaha

Nah,pe er banget nih kepuncaknya gimana.Mau naik angkot.nyambung-nyambung.Omprengan yang langsung ke puncak.Ngetemnya bisa 3 hari.Mungkin si Prisci punya rencana yang bagus.

"Ci.."

"TAKSI!!Hah kenapa ri?"

"Gapapa.ga jadi"

Oh iya.bagus banget idenya.dasar orang kaya.Dan benar saja duma setengah jam kami sampai vila bokapnya Prisci.

Vila ini sederhana sekali menurutku.walau begitu tempat ini sangat nyaman,mungkin karena kesederhanaannya aku meresa nyaman.Dari terasnya aku dapat melihat hamparan kebun teh yang menyegarkan mata.Yah berhubung setiap haru yang kulihat cuma mahasiswa mondar mandir di kampus.Jarang-jarang deh liat yang kaya gini.

"How is it?" Tiba-tiba Prisci membuyarkan lamunanku

"Nice place ci.Baru dibangun ya?"

"Gitu deh.Wanna come inside?" Prisci tampak terburu-buru

"Oh,Sure"

"Anyway,Ri"

"Ha.."

Sebelum aku sempat menjawab....Prisci menciumku....

 post by @inMwetrust

Minggu, 27 Mei 2012

Alunan Mentari #8

Oke, sendirian begini kemana ya enaknya? Aku sih tidak pernah keberatan ngopi-ngopi, duduk di kafe sendirian. Malah asyik, kok. Jadi ada kesempatan untuk observasi manusia. Lumayan buat nambah referensi.

Tapi mood-nya sedang tidak untuk dibawa ke tempat ramai hari ini. Maunya sih pulang dan melakukan sesuatu sendirian, tapi apa? 

Hmm... beli DVD mungkin ya?

Aku agak menyesal juga jalan kaki. Penjual DVD ada di belakang stasiun dan stasiunnya cukup jauh dari Fakultas Ekonomi. Mau ganti metode--naik bis--gengsi juga. Sudah setengah jalan. 

"Sidra?"

Aku menoleh dan mendapati sebuah wajah yang mengundang sapaan hampa emosi: "Narda."

Kenapa harus bertemu dia. Dari sekian juta manusia yang berada di kampus ini, kenapa harus dia yang menyapa, di tengah perjalanan yang tadinya untuk bersantai tanpa memikirkan apa-apa?

"Mau kemana?" tanyanya, dengan senyum yang biasa, yang aku hafal benar, yang sempat tidak mau hilang meskipun berkali-kali berusaha kuusir beberapa bulan lalu---ah, sudahlah.

"Beli DVD," jawab sekenanya, senyum seadanya.

"Oh, gue mau pulang, ke stasiun juga... Bareng, ya?" 

Terserah, terserah lo, emangnya lo berharap gue ngapain? Nolak? Ngajak? Minta--mohon ditemenin sambil nangis-nangis?

Kenapa jadi sewot begini? Sialan. Masih jauh, pula.

"Apa kabar, Dra? How's life?"


"Baik," paksakan senyum. Sulit. "Lo?"

"Baik, kok. Inget nggak, dulu gue pernah bilang mau coba apply jadi voluntir WWF buat proyek Save Borneo?"

"Iya, inget," --gimana bisa lupa?


"Gue kepilih," Narda berseri-seri. "Bulan depan berangkat."

"Wow, ke Borneo?" murni kaget dan kagum. "Selamat ya, Nar. Asik banget. Iri."

"Ikut aja, pake fee sendiri tapi yaa... Hehehe...," Narda terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang sempurna. Aku tidak bisa menahan senyum untuk pemandangan yang satu itu. Indah sekali.

Baiklah, biarkan aku mengakui satu hal ini saja: aku sangat kangen Narda. Dan pertemuan ini bisa jadi malah akan memperkuat rasa kangen  begitu berpisah jalan nanti. Karena itulah, aku gusar.

"Udah punya cowok lagi belom lo?" tanyanya dengan nada seperti menanyakan kemarin di rumah lo hujan nggak?. Dengan nada seolah menanyakan sesuatu yang tidak terdengar seperti bom bagiku.

"Belom."

"Kok belom?"

"Ya belom aja," kemudian tergelitik untuk bertanya balik. "Lo pasti udah punya cewek lagi... ya?"

"Belom kok, tenang aja," kembali dengan senyum gigi putihnya.

Tenang aja.
Maksudnya apa--tenang aja? "Tenang aja, gue gay kok sekarang". Atau  "tenang aja, gue pasti bakal bilang kalo udah jadian lagi". Atau "tenang aja, begitu gue jadian lo nggak akan gue sapa lagi kalo ketemu begini".

Atau... "tenang aja, gue belom bisa move-on kok dari lo"?

Pipiku memerah. Dasar otak bego. Dungu. Ngapain sih mikir aneh-aneh begitu? Jalan aja, jawab pertanyaan sekenanya, jangan mikir apa-apa. Begitu, supaya aman.


post by @azkashabrina

Sabtu, 26 Mei 2012

Alunan Mentari #7


Shit happens

Sidra pergi, berganti Prisci dengan pria yang aku tidak tahu siapa. Dikejauhan aku dapat dengar bagaimana Sidra menertawakan situasi yang sedang aku hadapi sekarang. Pahit. Prisci terlihat akrab dengan pria tersebut. Senyum Prisci selalu mengembang saat berbicara dengan pria itu. Suka sekali aku melihatnya, tapi dengki disaat bersamaan karena senyum itu bukan ditujukan untuk ku.

Aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan halte. Berjalan kearah berlawanan dengan yang Sidra ambil. Meski akan memakan jarak yang lebih jauh untuk sampai kekosan, biarlah. Aku tidak ingin ditertawakan lagi jika bertemu dengan Sidra. Cuma menambah sakit.

Cuaca hari ini sebetulnya tidak terlalu cocok untuk berjalan kaki. Panas yang terik membuatku kelelahan sebelum sampai setengah perjalanan. Sudah jauh untuk kembali, kaki sudah enggan untuk melanjuti. Aku harus beristirahat, mencari air untuk melawan dahaga. Mencari bayangan untuk menghindari cahaya.

Langkah gontai ini aku paksakan sampai aku ada di depan fakultas sosial-politik. Aku memutuskan untuk masuk dan mencari kantin. Meski rasa asing memasuki fakultas lain. Semua mata seperti tertuju padaku dan mempertanyakan apa mau ku. Lagi lagi ku buang rasa peduli. Istirahat, aku hanya ingin beristirahat.

Jam menunjukan tepat pukul dua belas siang. Kelas sesi kedua seharusnya belum selesai, bisa kupastikan kantin ini belum ramai oleh mahasiswanya. Ku tapaki koridor yang ada di tiap gedung, mencari kemana ku harus pergi.

Betul dugaanku, masih banyak bangku kosong yang bisa aku duduki. Setelah memesan minum, langsung ku istirahatkan tubuh ini di bangku kayu yang tidak terlalu nyaman sebetulnya. Badan sudah terlanjur letih, lemah sekali aku hari ini. Mata tidak henti memandangi sekeliling. Berharap ada satu-dua orang yang aku kenal, sekedar bertegur sapa atau mungkin mau menemani ku yang sendiri. Nihil.

Dari dalam ransel, ku ambil novel yang belum juga aku selesaikan untuk membacanya. The Pelican Brief  karya John Grisham ini memang favoritku sedari dulu. Bukan yang pertama, novel ini sudah aku baca puluhan kali sebetulnya, namun tidak bosan aku mengulangnya. Aku begitu menyukai membaca, meski dengan selera yang berbeda. Bagi teman-teman seusiaku mungkin lebih memilih untuk membaca novel remaja dengan bahasa sederhana tentang kehidupan cinta dan kesehariannya. Aku memilih novel misteri terjemahan yang butuh banyak imajinasi dan kesabaran untuk dapat mencerna tiap kata yang dituliskan.

Sambil sesekali meneguk minuman dingin, tak luput mata sedetikpun dari halaman yang memanjakan pikiran. Semakin ramai saja sepertinya, dari semua meja yang ada, hanya mejaku yang terisi sendiri. Aku mencoba tidak memberi perhatian sedikitpun pada sekitar.

            “Eh itu bukunya John Grisham, ya kan?” seorang wanita tiba tiba bertanya sambil mengambil duduk didepanku. Aku hanya terpana, aku tidak mengenalnya.

            “Iya…” aku menjawab seadanya sambil melempar senyum.

       “Jarang loh Gue liat ada yang baca buku itu disini, Gue Sandra...” ia memberikan tangan untuk berjabatan. Aku gugup sebetulnya, berusaha untuk aku sembunyikan.

            “Oya? Gue Dion,”

            “Lo jurusan apa? Kayaknya Gue belom pernah liat Lo disini sebelumnya?”

           “Oh, iya, Gue jurusan akuntansi, kebetulan tadi lewat terus iseng aja numpang baca disini, Lo jurusan apa?” Aku mencoba untuk mencairkan suasana, sedikit akward sebetulnya.

         “Pantesan…Gue jurusan Komunikasi. Lo emang suka baca bukunya John Grisham atau gimana Yon?”

             Sandra membuka percakapan menjadi lebih santai.

            “Iya, ini emang salah satu buku favorit Gue, San. Lo juga suka?”

            “Bisa dibilang begitu…” Sandra tersenyum. “Sebentar ya, Gue mau mesen makan dulu. Lo mau nitip sekalian?”
         
            “Enggak usah deh. Nanti kalo mau Gue pesen sendiri kok.”

Aku semakin tidak tahu apa yang sedang aku alami hari ini. Begitu banyak orang yang begitu saja mengenal dan mencoba untuk masuk dalam keseharianku. Seperti halnya Sandra ini. Ia begitu enerjik, ceria. Meski baru berkenalan, tapi tidak ada sedikitpun rasa malu-malu yang ia tunjukan.

            Sandra kembali, duduk lagi di hadapanku.

            “Punya berapa koleksi buku-bukunya John Grisham?” ia bertanya, pelan.

            “Hm…sekarang sih udah gak terlalu banyak, mungkin cuma enam”

            “Loh, kemana emang yang lainnya?”

            “Hilang, waktu itu Gue pindah kosan, ada satu kardus buku koleksi gue yang ketinggalan. Pas mau gue ambil ternyata udah diloakin sama Bapak kosnya, hehehe…” aku tertawa kecil.

Sandra mengangguk.

            “Lo gak jadi makan?” tanyaku.

            “Enggak, banyak banget yang pesen, pasti lama,”

            “Emang ada kelas lagi abis ini?”

            Aku menutup buku. Aku sudahi sesi membaca kali ini.

            “Udah selesai kok. Cuma males aja nunggunya, hehehe…"
  
           “Oh gitu,” jawabku singkat. Aku sudah tidak tahu apa yang ingin aku tanyakan. Hanya meneguk habis minuman yang ada di meja.
    
        “Lo masih mau disini, Yon?” Tanya Sandra.

       “Mau cabut aja deh kayaknya. Gak enak banyak yang pengen makan tapi gak ada tempat, gue disini menuh-menuhin doang padahal gak makan…”

         “Hahaha…santai aja kali. Terus Lo mau kemana?”

         “Hm…kosan paling, Lo mau kemana?”

         “Gue juga kayaknya, kosan lo dimana?”

         “Di belakang stasiun, San. Kosan Lo dimana?”

         “Ah, sama. Sekitar situ juga, bareng aja mau gak?”

         “Boleh, tapi gue mau jalan kaki, gimana?”

        “Challenge accepeted, masbro” jawab Sandra sambil berdiri dan memanggul tas ranselnya yang cukup besar.

Segera aku rapihkan ranselku dan menyusul Sandra yang sudah berjalan lebih dulu. Gesit betul anak ini, pikirku dalam hati.

        “Ayo, Yon, Lemah banget sih jadi cowok!” Sandra terlihat kesal dengan aku yang berjalan pelan dibelakangnya.

          “Buru-buru banget sih, santai aja kali…”

         “Hahahaha…Biarpun cewek tapi gue gak bisa jalan lelet kayak gitu…”

         “Iya iya, turunan copet apa gimana?”

         “Hahaha…Sial lo…”

Sepanjang perjalanan kami hanya saling bersenda gurau dengan lelucon yang cukup menghibur. Jarak tempuh yang biasanya cukup melelahkan kali ini begitu menyenangkan. Obrolan panjang yang dimulai hanya dari sebuah buku. Ini akan menjadi sangat menarik.

Sabtu, 12 Mei 2012

Alunan Mentari #6

"No,i'd rather not know anything" ucapku geram.

Prisci tersenyum."yeah,i know."

"you know nothing"

"hmmm....wanna take a walk?you have nothing to do right?"

"sure.as long as you shut the fuck up and not talking about Sisil.....until i ask you to."

"hahahah you're funny.lo pasti pengen tau banget kaaan?"

"kita mau jalan apa mau ngemeng doang nih?"

Aku merapihkan barang-barangku yang bececeran diatas meja kantin.

"so,where to?" tanyaku pada Prisci

Prisci hanya tersenyum dan menarik tanganku.

Diluar fakultas aku melihat 2 orang yang tadi kutemui di kantin.Si nona kesal dan si pria-yang-jatuh-cinta-pada-Prisci."oh mereka"gumamku.

"Siapa?temen lo?"tiba-tiba Prisci nyaut.

Aku menggeleng.

"Oh kirain si-cewe-tomboy itu temen lo.i hate her.she's annoying"

Aku kembali menggelengkan kepalaku

Sepanjang perjalanan aku diam.Bukan karena aku kesal pada Prisci.tapi pikiranku sungguh runyam.aku sangat merindukan Sisil.

Setiap detik yang kuhabiskan bersama Prisci membuatku semakin mengingat Sisil.apa karena gaya mereka mirip.ah mungkin ini hanya obsesiku pada Sisil yang berlebihan.

Stasiun...

"Bogor,dua" Prisci membeli tiket kereta ke bogor.

"Anjrit,ngapain kita ke bogor?"

"I don't know,honey.Gue bosen"

Aku tau Prisci emang punya kepribadian bak putri raja.Tapi aku ga pernah ngira kalau dia se-random ini.

Ah sudahlah terserah dia saja,"asal gue ga dijual aja" gumamku dalam hati.

"Lo kenapa?" Tanya Prisci.

"gapapa,emang kenapa deh?"

"Muka lo jelek"

"Bodo amat,gini gini lo naksir kan?"

Prisci terdiam sesaat.

"iya,dari semenjak lo jalan sama Sisil"

Oh my god.salah ngomong gue.


post by @inMwetrust

Alunan Mentari #5


This guy is miserable.

Aku punya kebiasaan buruk mengamati orang hingga detail terkecil. Kebiasaan buruk ini sudah membuatku cukup sulit berteman, karena terlalu banyak yang bisa kudapat dari sekedar pengamatan singkat.

Aku bisa mengenali seorang pembohong ulung hanya dengan mengamati gerakan matanya selama semenit.

Tapi Dion... Rasanya tidak buruk untuk dijadikan teman, meski ada sesuatu yang terasa muram dari pembawaannya.

“Emangnya nggak ada kuliah?” tanyaku menyelidik.  Alasan Dion duduk melongo memandangi Prisci tadi masih menggelitik untuk kuketahui.

“Ada sih, harusnya. Tapi batal.”

Aku tertawa. “Dosen emang suka seenaknya. Makanya, gue juga seenaknya.”

Dion mengangkat sedikit alisnya. Seperti ada kata-kata yang ia tahan.

“Apa?” tanyaku. “Kenapa ekspresi lo begitu?”

“Hmm...,” Dion ragu sejenak. “Kasian yang capek-capek bikin peraturan kalo semua orang akhirnya seenaknya.”

“Harusnya lo tanya dulu sama yang bikin peraturan. Mereka sendiri nepatin peraturan, nggak?”

Dion tersenyum. “Iya juga, sih.”

Sopan benar anak ini. Nggak seru. Langsung sok setuju.
Yang begini, sasaran empuk untuk dikerjai.

“Prisci cantik, ya?” ujarku usil, sengaja tanpa ekspresi.

“Hah?” Dion melongo. Tidak siap menerima pertanyaan demikian. “Prisci siapa?”

Aku mengangkat kedua alis. “Jadi dari tadi lo ngeliatin dia tanpa tau namanya? Duh, nggak ada kerjaan lain selain jadi pemuja rahasia?”

Wajah di depanku serta merta berubah merah. Lucu sekali memang anak ini. Ada tulisan ‘ANJING, KETAUAN!’ yang tak kasatmata.

“Namanya Prisci. Anak Ekonomi juga, kayak gue. Belum punya pacar. High-class. Tipe-tipe sosialita gitu," lanjutku, menikmati.

“Oh,” Dion menelan rasa malunya dengan segenap usaha. Telinganya masih merah. “Temen lo?”

“Musuh, lebih tepatnya,” ucapku seadanya.

Dion menoleh, heran. “Kalo musuh, kok kenal banget?”

Aku nyengir. “Keep your friends close and your enemies closer, kalo kata Sun-Tzu.”

Sebatang rokok sudah jadi korban percakapan kami. Mungkin sudah waktunya pindah tempat.

“Yakin nggak mau kemana-mana?” tanyaku. “Gue kayaknya mau mulai bergerak.”

Dion menggeleng. “Lo jalan kaki aja?”

“Lebih sehat, kan?” ujarku simpel. Aku berdiri, menyandangkan tas di bahu kiri, kemudian melambai. “Duluan, Yon.”

Dion membalas lambaianku. Sebenarnya kasihan juga dia. Baru beberapa menit jadi kenalanku, tapi sudah kena imbas jahilnya aku.

Tiga langkah kemudian, aku jadi mengasihani diri sendiri.
Aku salah arah. Seharusnya jalan ke kiri saja tadi.

Prisci baru saja keluar dari dalam fakultas, bersama seorang pria yang rasanya dulu pernah beberapa kali ikut bergabung dengan kelompok teman wanita Prisci. Aneh. Kenapa tuan putri yang satu ini mau jalan kaki sebegini ‘jauh’?

Kami bertukar pandang saat berpapasan. Menyampaikan rasa tidak suka masing-masing dengan segenap niat.

If looks could kill.

Beberapa langkah kemudian, aku menoleh ke belakang. Prisci dan lelaki tadi duduk di halte. Prisci tepat di samping Dion yang ekspresi wajahnya seolah diajak bicara presiden amerika serikat.

Tawaku pasti terdengar oleh mereka. Mau bagaimana lagi. Ini lucu.

Good luck, brother.


post by @azkashabrina

Alunan Mentari #4



Sudahlah, aku putuskan untuk meninggalkan kantin lebih cepat pagi ini. Jika suasana hati memungkinkan senja datang bisa saja aku baru pulang. Banyak yang menyeruak dalam otak, entah aku yang tadi terpana pada gadis yang tidak aku kenal di depan ku ini? Atau karena kelas yang dibatalkan seenaknya oleh dosen? Biarlah biarlah.

Berat sekali kaki untuk melangkah. Terik matahari pagi seolah menyurutkan tenaga untuk berjalan. Sarapan yang biasa terlewat setiap pagi pasti bukan alasan aku menjadi malas seperti ini. Aku bukan mentari yang selalu cerah menyinari setiap hari. Aku bisa meredup. Apa yang sedang aku pikirkan?

Kembali aku duduk di bangku halte fakultas, melihat kendaraan yang melaju mengejar waktu. Kadang aku penasaran. Hendak kemana orang orang ini pergi. Kenapa jalanan ibukota ini tidak pernah sepi? Bukan hal yang harus dijawab memang. Hanya sekedar penasaran.

Di ujung bangku halte baru kusadari ada wanita yang sedang duduk ikut menunggu bus sepertiku. Mengerutkan dahi mencoba untuk mengenali, sepertinya aku lihat dia tadi. Oia, dia yang meminjam pemantik api di kantin tadi. Gadis itu mungkin sadar aku sedang mengamati, dilemparnya senyum kecil padaku. Aku balas senyum seadanya. Manis, meski terlihat acuh.

Gadis itu kali ini menghampiri, masih sambil tersenyum.

“Eh, boleh pinjem korek lagi gak?” Tanyanya dengan ramah.
“Oh, boleh. Nih…” jawabku singkat sambil memberikan korek.
 Gadis itu menyalakan rokoknya, menghisapnya pelan, dihembuskan.
“Makasih yaa..” ujarnya mengembalikan korek.
Aku hanya membalas dengan senyum. Gadis itu sekarang duduk dekat disebelahku. Suasana menjadi sedikit akward, ku coba membuka percakapan.

“Jurusan apa?” tanyaku sekenanya.
“Ekonomi, kalo lo?”
“Gue jurusan akuntansi”
“Oh, iya.” Dia menjawab singkat dengan senyum yang sekarang lebih lepas ketimbang sebelumnya.
“Gue Dion, lo?” kuberikan tawaran untuk berjabat tangan,
“Gue Sidra” ia membalas jabatan tanganku.

Kali pertamanya aku berkenalan dengan gadis yang notabenenya bukan teman sekelas ku. Tidak terlalu buruk nampaknya.

“Rokok gak?” Sidra menawarkan rokok padaku.
“Iya, makasih.” Aku menolak halus. Bukannya tidak mau, tapi aku malu untuk menerimanya.

Tidak banyak yang bisa aku ajukan sebagai pertanyaan untuk mempertahankan pembicaraan ini. Aku memang masih baru dalam dunia wanita. Kadang aku tidak tahu harus berkata apa agar bisa terlihat menarik di mata kaum hawa.

Bus yang kami tunggu akhirnya tiba. Tidak tahu apa yang merasuki, aku enggan beranjak. Aku ingin duduk bermalas malasan saja disini. Tidak ada apa apa memang, hanya lansekap jalan yang bisa aku lihat, tapi aku sungguh menikmatinya.

Sidra berdiri. Lalu menoleh kearahku yang masih saja tidak merubah posisi.
“Enggak naik ke bis?”
“Enggak deh kayaknya, males, pengen disini aja” aku menggeleng.

Sidra hanya tersenyum. Dia kembali duduk.

Bus berhenti. Kerumunan mahasiswa turun lalu pergi. Bus berjalan kembali sampai hilang dari pandangan.
“Loh, gak jadi naik bisnya?” penasaran aku pada sikapnya yang seperti ingin tetap disitu menemaniku.
“Males, sama kayak lo…” cengirnya setengah tertawa.
“Emang mau kemana? Kosan?”
“Iya…Males tapi, gak ada kerjaan juga di kosan, kalo lo?”
“Sama!”

Lalu kami tertawa. Lupa mungkin jika kami baru berkenalan tadi, lima belas menit yang lalu. Tapi memang Sidra ini berbeda rasanya dibanding gadis gadis yang aku kenal di kampus.