Shit
happens
Sidra pergi, berganti
Prisci dengan pria yang aku tidak tahu siapa. Dikejauhan aku dapat dengar
bagaimana Sidra menertawakan situasi yang sedang aku hadapi sekarang. Pahit.
Prisci terlihat akrab dengan pria tersebut. Senyum Prisci selalu mengembang
saat berbicara dengan pria itu. Suka sekali aku melihatnya, tapi dengki disaat
bersamaan karena senyum itu bukan ditujukan untuk ku.
Aku memutuskan untuk
pergi, meninggalkan halte. Berjalan kearah berlawanan dengan yang Sidra ambil.
Meski akan memakan jarak yang lebih jauh untuk sampai kekosan, biarlah. Aku
tidak ingin ditertawakan lagi jika bertemu dengan Sidra. Cuma menambah sakit.
Cuaca hari ini
sebetulnya tidak terlalu cocok untuk berjalan kaki. Panas yang terik membuatku
kelelahan sebelum sampai setengah perjalanan. Sudah jauh untuk kembali, kaki
sudah enggan untuk melanjuti. Aku harus beristirahat, mencari air untuk melawan
dahaga. Mencari bayangan untuk menghindari cahaya.
Langkah gontai ini aku
paksakan sampai aku ada di depan fakultas sosial-politik. Aku memutuskan untuk
masuk dan mencari kantin. Meski rasa asing memasuki fakultas lain. Semua mata
seperti tertuju padaku dan mempertanyakan apa mau ku. Lagi lagi ku buang rasa
peduli. Istirahat, aku hanya ingin beristirahat.
Jam menunjukan tepat
pukul dua belas siang. Kelas sesi kedua seharusnya belum selesai, bisa
kupastikan kantin ini belum ramai oleh mahasiswanya. Ku tapaki koridor yang ada
di tiap gedung, mencari kemana ku harus pergi.
Betul dugaanku, masih
banyak bangku kosong yang bisa aku duduki. Setelah memesan minum, langsung ku
istirahatkan tubuh ini di bangku kayu yang tidak terlalu nyaman sebetulnya.
Badan sudah terlanjur letih, lemah sekali aku hari ini. Mata tidak henti
memandangi sekeliling. Berharap ada satu-dua orang yang aku kenal, sekedar
bertegur sapa atau mungkin mau menemani ku yang sendiri. Nihil.
Dari dalam ransel, ku
ambil novel yang belum juga aku selesaikan untuk membacanya. The Pelican Brief karya John Grisham ini memang favoritku
sedari dulu. Bukan yang pertama, novel ini sudah aku baca puluhan kali
sebetulnya, namun tidak bosan aku mengulangnya. Aku begitu menyukai membaca,
meski dengan selera yang berbeda. Bagi teman-teman seusiaku mungkin lebih
memilih untuk membaca novel remaja dengan bahasa sederhana tentang kehidupan
cinta dan kesehariannya. Aku memilih novel misteri terjemahan yang butuh banyak
imajinasi dan kesabaran untuk dapat mencerna tiap kata yang dituliskan.
Sambil sesekali meneguk
minuman dingin, tak luput mata sedetikpun dari halaman yang memanjakan pikiran.
Semakin ramai saja sepertinya, dari semua meja yang ada, hanya mejaku yang
terisi sendiri. Aku mencoba tidak memberi perhatian sedikitpun pada sekitar.
“Eh itu bukunya John Grisham, ya kan?” seorang wanita
tiba tiba bertanya sambil mengambil duduk didepanku. Aku hanya terpana, aku
tidak mengenalnya.
“Iya…” aku menjawab seadanya sambil melempar senyum.
“Jarang loh Gue liat ada yang baca buku itu disini, Gue Sandra...”
ia memberikan tangan untuk berjabatan. Aku gugup sebetulnya, berusaha untuk aku
sembunyikan.
“Oya? Gue Dion,”
“Lo jurusan apa? Kayaknya Gue belom pernah liat Lo disini
sebelumnya?”
“Oh, iya, Gue jurusan akuntansi, kebetulan tadi lewat
terus iseng aja numpang baca disini, Lo jurusan apa?” Aku mencoba untuk mencairkan
suasana, sedikit akward sebetulnya.
“Pantesan…Gue jurusan Komunikasi. Lo emang suka baca
bukunya John Grisham atau gimana Yon?”
Sandra membuka percakapan menjadi lebih santai.
“Iya, ini emang salah satu buku favorit Gue, San. Lo juga
suka?”
“Bisa dibilang begitu…” Sandra tersenyum. “Sebentar ya,
Gue mau mesen makan dulu. Lo mau nitip sekalian?”
“Enggak usah deh. Nanti kalo mau Gue pesen sendiri kok.”
Aku semakin tidak tahu
apa yang sedang aku alami hari ini. Begitu banyak orang yang begitu saja
mengenal dan mencoba untuk masuk dalam keseharianku. Seperti halnya Sandra ini.
Ia begitu enerjik, ceria. Meski baru berkenalan, tapi tidak ada sedikitpun rasa
malu-malu yang ia tunjukan.
Sandra kembali, duduk lagi di hadapanku.
“Punya berapa koleksi buku-bukunya John Grisham?” ia
bertanya, pelan.
“Hm…sekarang sih udah gak terlalu banyak, mungkin cuma
enam”
“Loh, kemana emang yang lainnya?”
“Hilang, waktu itu Gue pindah kosan, ada satu kardus buku
koleksi gue yang ketinggalan. Pas mau gue ambil ternyata udah diloakin sama
Bapak kosnya, hehehe…” aku tertawa kecil.
Sandra mengangguk.
“Lo gak jadi makan?” tanyaku.
“Enggak, banyak banget yang pesen, pasti lama,”
“Emang ada kelas lagi abis ini?”
Aku menutup buku. Aku sudahi sesi membaca kali ini.
“Udah selesai kok. Cuma males aja nunggunya, hehehe…"
“Oh gitu,” jawabku singkat. Aku sudah tidak tahu apa yang
ingin aku tanyakan. Hanya meneguk habis minuman yang ada di meja.
“Lo masih mau disini, Yon?” Tanya Sandra.
“Mau cabut aja deh kayaknya. Gak enak banyak yang pengen
makan tapi gak ada tempat, gue disini menuh-menuhin doang padahal gak makan…”
“Hahaha…santai aja kali. Terus Lo mau kemana?”
“Hm…kosan paling, Lo mau kemana?”
“Gue juga kayaknya, kosan lo dimana?”
“Di belakang stasiun, San. Kosan Lo dimana?”
“Ah, sama. Sekitar situ juga, bareng aja mau gak?”
“Boleh, tapi gue mau jalan kaki, gimana?”
“Challenge
accepeted, masbro” jawab Sandra sambil berdiri dan memanggul tas ranselnya
yang cukup besar.
Segera aku rapihkan
ranselku dan menyusul Sandra yang sudah berjalan lebih dulu. Gesit betul anak
ini, pikirku dalam hati.
“Ayo, Yon, Lemah banget sih jadi cowok!” Sandra terlihat
kesal dengan aku yang berjalan pelan dibelakangnya.
“Buru-buru banget sih, santai aja kali…”
“Hahahaha…Biarpun cewek tapi gue gak bisa jalan lelet
kayak gitu…”
“Iya iya, turunan copet apa gimana?”
“Hahaha…Sial lo…”
Sepanjang perjalanan
kami hanya saling bersenda gurau dengan lelucon yang cukup menghibur. Jarak
tempuh yang biasanya cukup melelahkan kali ini begitu menyenangkan. Obrolan
panjang yang dimulai hanya dari sebuah buku. Ini akan menjadi sangat menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar