Agak
sedikit bosan mungkin bagi beberapa dari kalian untuk membaca tulisan dengan
pembahasan cinta, sudah terlalu banyak. Namun belum cukup memuaskan dahaga
batin untuk mengetahui tentang apa itu sebenarnya.
Beberapa
dari kalian mungkin pernah merasakan, atau saat ini sedang merasakannya.
Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata apapun. Walau pada
kenyataannya, saat perasaan ini datang, mendadak Chairil Anwar merasuki otak.
Begitu puitis kalian menggambarkan hidup. Putih tanpa ada kesalahan. Iya,
memang saperti itu rasanya jatuh cinta.
Aku
memulai hari ini tanpa berprasangka, baik maupun buruk. Seperti sebelumnya,
biasa saja, begitu aku berpendapat. Langkah kaki yang bisa aku ambil menuju
kampus selalu santai seperti kemarin dan kemarin. Aku mulai letih sebetulnya
dengan rutinitas, aku sudah sedikit muak dengan kewajiban menjadi civitas.
Menghela nafas sesekali, semoga oksigen mampu menenangkan otak. Sedikit
harapan.
Di
halte depan stasiun aku menanti bus untuk mengantarkan ke fakultas. Lalu lalang
kendaraan mahasiswa begitu memanjakan indera penglihatanku. Enak sekali hidup
seperti mereka, orang tua yang berkecukupan dan mampu membelikan anak mereka
kendaraan yang bisa memberikan kenyamanan. Tidak seperti aku, tuhan tidak
mengirimkan aku kepada keluarga yang bisa dibilang sejahtera. Orang tuaku hanya
sebatas buruh tani di desa. Baru satu tahun aku menimba ilmu di ibukota,
bermodalkan beasiswa pemerintah daerah, berharap bisa kembali dengan banyak
lembaran kertas yang selama ini orang tuaku susah payah kumpulkan. Helaan nafas
sekarang menjadi terasa lebih berat.
Bus
yang aku tunggupun tiba, dengan malas ku angkat tubuh ini untuk menghampiri.
Begitu pintu bus terbuka, semua mahasiswa yang telah menanti beruduyung duyung
merapatkan diri didalamnya. Aku salah satunya. Sambil memeluk ransel yang sesak
oleh buku, tampak berat aku berdiri ditengah kerumunan ini. Semoga perjuanganku
akan berbuah manis. Lagi lagi harapan.
Sesampainya
dihalte fakultas, lekas aku berlari menuju kelas. Pukul delapan lewat lima
belas menit tepat saat itu, kelas pagi ini tidak boleh sampai terlewat. Demi
kelas pagi ini aku rela memaksa otak dan badan untuk terjaga semalaman, tugas
begitu penting bagi dosen mata kuliah ini. Ingin rasanya meninggalkan tugas dan
kelas sesekali dengan penat yang merasuki benak ini, namun setiap pikiran itu
datang, terlihat jelas bagaimana ayah dan ibu mengelap peluh mereka di ladang.
Aku mengurungkan niat. Aku tidak ingin mengecewakan.
Dari
kejauhan kulihat pintu kelas sudah tertutup. Kupercepat lariku, semoga masih
ada kesempatan untuk masuk. Tanpa basa basi langsung ku buka pintu, bersiap
untuk menerima tatapan dari semua orang yang ada dikelas, bersiap untuk alasan
jujur yang pasti tidak akan dipercaya oleh dosenku itu. Apa yang didapati
mataku kemudian sungguh tidak bisa dipercaya. Kelas kosong. Kulihat dipapan
tulis secarik kertas menempel, untuk jadwal mata kuliah yang aku ambil di jam
itu dibatalkan dan diganti esok lusa. Hanya bisa menelan ludah aku membacanya.
Sekarang tidak tahu lagi aku harus kemana. Kuliah segan pulang tak mau.
Dengan
mata yang masih sayup meminta sedikit gelap untuk beristirahat, aku justru memaksa
kaki menuju kantin fakultas, “aku butuh kopi, aku butuh kaffein” gumam aku
sesekali. Segera aku memesan kopi, ku nyalakan sebatang rokok untuk menemani
pagi yang sendiri. Hembusan asap menari di kepala. Serangan nikotin menenangkan
jiwa. Begitu banyak orang yang membenci ini, temuan temuan para ahli meyakinkan
untuk tidak membakar dan menghirup asapnya. Mereka bilang aku akan terkena
kanker dan sebagainya, mereka terus bilang aku akan mati muda, tapi tak ada
kepedulian yang aku berikan. Ini yang setia menemani disaat aku butuh penenang
hati. Hanya ini yang mampu menenangkan pikiran saat akal sehat sudah tidak bisa
diandalkan, aku hisap lagi dalam dalam nikotin itu.
Kantin
begitu sepi pagi ini. Hanya kelasku mungkin yang jadwalnya batal, tapi tidak
ada satupun teman sekelas tampak mengisi meja yang ada. Mungkin mereka sudah
tahu informasi pembatalan kelas sehari sebelumnya. Tidak seperti yang lainnya,
aku bahkan tidak memiliki telepon genggam, wajar jika aku tidak tahu. mungkin
sekarang teman teman sekelasku masih asik menganyam mimpi, biarlah, aku nikmati
saja kopi ini.
Begitu
terhanyut dalam lamunan, tanpa aku sadari meja depanku sudah ada yang
menempati. Seorang cantik yang tidak aku kenali. Mungkin mahasiswi dari
fakultas sebelah, atau mungkin dari kelas lain yang tidak diperkenankan masuk
oleh dosennya karena waktu yang datang terlambat, entahlah, aku tidak begitu
memikirkan namun mataku tidak mau lepas dari pandangan. Belum pernah aku
melihat ciptaan tuhan yang begitu menenangkan walau hanya menatapnya. Bagaimana
jika aku bisa menyentuhnya? Pertanyaan yang mungkin tidak bisa aku dapatkan jawabannya.
Kualihkan
retina dan pikiran, tidak ingin terlalu jauh aku membayangkan. Hidup bukanlah
sinetron yang semua bisa terjadi. Wanita cantik seperti dia mana mungkin bisa
aku dapatkan, aku yang lusuh dengan pakaian yang aku sudah aku gunakan kemarin,
sedangkan dia dengan pakaian necis dan parfum mahal yang memanjakan penciuman
siapa saja yang ada didekatnya. Aku mungkin tidak punya apa apa, tapi aku tidak
bodoh. Membaca buku aku jadikan alasan untuk menghilangkan fokus padanya.
Materi yang harusnya aku dapatkan hari ini dikelas, aku coba untuk
mempelajarinya sendiri. Sudah tak sanggup sebetulnya kepala untuk menerima,
tapi aku paksakan, tidak apa, aku sudah terbiasa.
post by @jambronggg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar