Kamis, 03 Mei 2012

Alunan Mentari #1



Agak sedikit bosan mungkin bagi beberapa dari kalian untuk membaca tulisan dengan pembahasan cinta, sudah terlalu banyak. Namun belum cukup memuaskan dahaga batin untuk mengetahui tentang apa itu sebenarnya.

Beberapa dari kalian mungkin pernah merasakan, atau saat ini sedang merasakannya. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata apapun. Walau pada kenyataannya, saat perasaan ini datang, mendadak Chairil Anwar merasuki otak. Begitu puitis kalian menggambarkan hidup. Putih tanpa ada kesalahan. Iya, memang saperti itu rasanya jatuh cinta.

Aku memulai hari ini tanpa berprasangka, baik maupun buruk. Seperti sebelumnya, biasa saja, begitu aku berpendapat. Langkah kaki yang bisa aku ambil menuju kampus selalu santai seperti kemarin dan kemarin. Aku mulai letih sebetulnya dengan rutinitas, aku sudah sedikit muak dengan kewajiban menjadi civitas. Menghela nafas sesekali, semoga oksigen mampu menenangkan otak. Sedikit harapan.

Di halte depan stasiun aku menanti bus untuk mengantarkan ke fakultas. Lalu lalang kendaraan mahasiswa begitu memanjakan indera penglihatanku. Enak sekali hidup seperti mereka, orang tua yang berkecukupan dan mampu membelikan anak mereka kendaraan yang bisa memberikan kenyamanan. Tidak seperti aku, tuhan tidak mengirimkan aku kepada keluarga yang bisa dibilang sejahtera. Orang tuaku hanya sebatas buruh tani di desa. Baru satu tahun aku menimba ilmu di ibukota, bermodalkan beasiswa pemerintah daerah, berharap bisa kembali dengan banyak lembaran kertas yang selama ini orang tuaku susah payah kumpulkan. Helaan nafas sekarang menjadi terasa lebih berat.

Bus yang aku tunggupun tiba, dengan malas ku angkat tubuh ini untuk menghampiri. Begitu pintu bus terbuka, semua mahasiswa yang telah menanti beruduyung duyung merapatkan diri didalamnya. Aku salah satunya. Sambil memeluk ransel yang sesak oleh buku, tampak berat aku berdiri ditengah kerumunan ini. Semoga perjuanganku akan berbuah manis. Lagi lagi harapan.

Sesampainya dihalte fakultas, lekas aku berlari menuju kelas. Pukul delapan lewat lima belas menit tepat saat itu, kelas pagi ini tidak boleh sampai terlewat. Demi kelas pagi ini aku rela memaksa otak dan badan untuk terjaga semalaman, tugas begitu penting bagi dosen mata kuliah ini. Ingin rasanya meninggalkan tugas dan kelas sesekali dengan penat yang merasuki benak ini, namun setiap pikiran itu datang, terlihat jelas bagaimana ayah dan ibu mengelap peluh mereka di ladang. Aku mengurungkan niat. Aku tidak ingin mengecewakan.

Dari kejauhan kulihat pintu kelas sudah tertutup. Kupercepat lariku, semoga masih ada kesempatan untuk masuk. Tanpa basa basi langsung ku buka pintu, bersiap untuk menerima tatapan dari semua orang yang ada dikelas, bersiap untuk alasan jujur yang pasti tidak akan dipercaya oleh dosenku itu. Apa yang didapati mataku kemudian sungguh tidak bisa dipercaya. Kelas kosong. Kulihat dipapan tulis secarik kertas menempel, untuk jadwal mata kuliah yang aku ambil di jam itu dibatalkan dan diganti esok lusa. Hanya bisa menelan ludah aku membacanya. Sekarang tidak tahu lagi aku harus kemana. Kuliah segan pulang tak mau.

Dengan mata yang masih sayup meminta sedikit gelap untuk beristirahat, aku justru memaksa kaki menuju kantin fakultas, “aku butuh kopi, aku butuh kaffein” gumam aku sesekali. Segera aku memesan kopi, ku nyalakan sebatang rokok untuk menemani pagi yang sendiri. Hembusan asap menari di kepala. Serangan nikotin menenangkan jiwa. Begitu banyak orang yang membenci ini, temuan temuan para ahli meyakinkan untuk tidak membakar dan menghirup asapnya. Mereka bilang aku akan terkena kanker dan sebagainya, mereka terus bilang aku akan mati muda, tapi tak ada kepedulian yang aku berikan. Ini yang setia menemani disaat aku butuh penenang hati. Hanya ini yang mampu menenangkan pikiran saat akal sehat sudah tidak bisa diandalkan, aku hisap lagi dalam dalam nikotin itu.

Kantin begitu sepi pagi ini. Hanya kelasku mungkin yang jadwalnya batal, tapi tidak ada satupun teman sekelas tampak mengisi meja yang ada. Mungkin mereka sudah tahu informasi pembatalan kelas sehari sebelumnya. Tidak seperti yang lainnya, aku bahkan tidak memiliki telepon genggam, wajar jika aku tidak tahu. mungkin sekarang teman teman sekelasku masih asik menganyam mimpi, biarlah, aku nikmati saja kopi ini.

Begitu terhanyut dalam lamunan, tanpa aku sadari meja depanku sudah ada yang menempati. Seorang cantik yang tidak aku kenali. Mungkin mahasiswi dari fakultas sebelah, atau mungkin dari kelas lain yang tidak diperkenankan masuk oleh dosennya karena waktu yang datang terlambat, entahlah, aku tidak begitu memikirkan namun mataku tidak mau lepas dari pandangan. Belum pernah aku melihat ciptaan tuhan yang begitu menenangkan walau hanya menatapnya. Bagaimana jika aku bisa menyentuhnya? Pertanyaan yang mungkin tidak bisa aku dapatkan jawabannya.

Kualihkan retina dan pikiran, tidak ingin terlalu jauh aku membayangkan. Hidup bukanlah sinetron yang semua bisa terjadi. Wanita cantik seperti dia mana mungkin bisa aku dapatkan, aku yang lusuh dengan pakaian yang aku sudah aku gunakan kemarin, sedangkan dia dengan pakaian necis dan parfum mahal yang memanjakan penciuman siapa saja yang ada didekatnya. Aku mungkin tidak punya apa apa, tapi aku tidak bodoh. Membaca buku aku jadikan alasan untuk menghilangkan fokus padanya. Materi yang harusnya aku dapatkan hari ini dikelas, aku coba untuk mempelajarinya sendiri. Sudah tak sanggup sebetulnya kepala untuk menerima, tapi aku paksakan, tidak apa, aku sudah terbiasa.



post by @jambronggg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar