Sabtu, 12 Mei 2012

Alunan Mentari #4



Sudahlah, aku putuskan untuk meninggalkan kantin lebih cepat pagi ini. Jika suasana hati memungkinkan senja datang bisa saja aku baru pulang. Banyak yang menyeruak dalam otak, entah aku yang tadi terpana pada gadis yang tidak aku kenal di depan ku ini? Atau karena kelas yang dibatalkan seenaknya oleh dosen? Biarlah biarlah.

Berat sekali kaki untuk melangkah. Terik matahari pagi seolah menyurutkan tenaga untuk berjalan. Sarapan yang biasa terlewat setiap pagi pasti bukan alasan aku menjadi malas seperti ini. Aku bukan mentari yang selalu cerah menyinari setiap hari. Aku bisa meredup. Apa yang sedang aku pikirkan?

Kembali aku duduk di bangku halte fakultas, melihat kendaraan yang melaju mengejar waktu. Kadang aku penasaran. Hendak kemana orang orang ini pergi. Kenapa jalanan ibukota ini tidak pernah sepi? Bukan hal yang harus dijawab memang. Hanya sekedar penasaran.

Di ujung bangku halte baru kusadari ada wanita yang sedang duduk ikut menunggu bus sepertiku. Mengerutkan dahi mencoba untuk mengenali, sepertinya aku lihat dia tadi. Oia, dia yang meminjam pemantik api di kantin tadi. Gadis itu mungkin sadar aku sedang mengamati, dilemparnya senyum kecil padaku. Aku balas senyum seadanya. Manis, meski terlihat acuh.

Gadis itu kali ini menghampiri, masih sambil tersenyum.

“Eh, boleh pinjem korek lagi gak?” Tanyanya dengan ramah.
“Oh, boleh. Nih…” jawabku singkat sambil memberikan korek.
 Gadis itu menyalakan rokoknya, menghisapnya pelan, dihembuskan.
“Makasih yaa..” ujarnya mengembalikan korek.
Aku hanya membalas dengan senyum. Gadis itu sekarang duduk dekat disebelahku. Suasana menjadi sedikit akward, ku coba membuka percakapan.

“Jurusan apa?” tanyaku sekenanya.
“Ekonomi, kalo lo?”
“Gue jurusan akuntansi”
“Oh, iya.” Dia menjawab singkat dengan senyum yang sekarang lebih lepas ketimbang sebelumnya.
“Gue Dion, lo?” kuberikan tawaran untuk berjabat tangan,
“Gue Sidra” ia membalas jabatan tanganku.

Kali pertamanya aku berkenalan dengan gadis yang notabenenya bukan teman sekelas ku. Tidak terlalu buruk nampaknya.

“Rokok gak?” Sidra menawarkan rokok padaku.
“Iya, makasih.” Aku menolak halus. Bukannya tidak mau, tapi aku malu untuk menerimanya.

Tidak banyak yang bisa aku ajukan sebagai pertanyaan untuk mempertahankan pembicaraan ini. Aku memang masih baru dalam dunia wanita. Kadang aku tidak tahu harus berkata apa agar bisa terlihat menarik di mata kaum hawa.

Bus yang kami tunggu akhirnya tiba. Tidak tahu apa yang merasuki, aku enggan beranjak. Aku ingin duduk bermalas malasan saja disini. Tidak ada apa apa memang, hanya lansekap jalan yang bisa aku lihat, tapi aku sungguh menikmatinya.

Sidra berdiri. Lalu menoleh kearahku yang masih saja tidak merubah posisi.
“Enggak naik ke bis?”
“Enggak deh kayaknya, males, pengen disini aja” aku menggeleng.

Sidra hanya tersenyum. Dia kembali duduk.

Bus berhenti. Kerumunan mahasiswa turun lalu pergi. Bus berjalan kembali sampai hilang dari pandangan.
“Loh, gak jadi naik bisnya?” penasaran aku pada sikapnya yang seperti ingin tetap disitu menemaniku.
“Males, sama kayak lo…” cengirnya setengah tertawa.
“Emang mau kemana? Kosan?”
“Iya…Males tapi, gak ada kerjaan juga di kosan, kalo lo?”
“Sama!”

Lalu kami tertawa. Lupa mungkin jika kami baru berkenalan tadi, lima belas menit yang lalu. Tapi memang Sidra ini berbeda rasanya dibanding gadis gadis yang aku kenal di kampus. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar