Sudahlah, aku putuskan
untuk meninggalkan kantin lebih cepat pagi ini. Jika suasana hati memungkinkan
senja datang bisa saja aku baru pulang. Banyak yang menyeruak dalam otak, entah
aku yang tadi terpana pada gadis yang tidak aku kenal di depan ku ini? Atau karena
kelas yang dibatalkan seenaknya oleh dosen? Biarlah biarlah.
Berat sekali kaki untuk
melangkah. Terik matahari pagi seolah menyurutkan tenaga untuk berjalan. Sarapan
yang biasa terlewat setiap pagi pasti bukan alasan aku menjadi malas seperti
ini. Aku bukan mentari yang selalu cerah menyinari setiap hari. Aku bisa
meredup. Apa yang sedang aku pikirkan?
Kembali aku duduk di
bangku halte fakultas, melihat kendaraan yang melaju mengejar waktu. Kadang aku
penasaran. Hendak kemana orang orang ini pergi. Kenapa jalanan ibukota ini
tidak pernah sepi? Bukan hal yang harus dijawab memang. Hanya sekedar
penasaran.
Di ujung bangku halte
baru kusadari ada wanita yang sedang duduk ikut menunggu bus sepertiku. Mengerutkan
dahi mencoba untuk mengenali, sepertinya aku lihat dia tadi. Oia, dia yang
meminjam pemantik api di kantin tadi. Gadis itu mungkin sadar aku sedang
mengamati, dilemparnya senyum kecil padaku. Aku balas senyum seadanya. Manis,
meski terlihat acuh.
Gadis itu kali ini
menghampiri, masih sambil tersenyum.
“Eh, boleh pinjem korek
lagi gak?” Tanyanya dengan ramah.
“Oh, boleh. Nih…”
jawabku singkat sambil memberikan korek.
Gadis itu menyalakan rokoknya, menghisapnya
pelan, dihembuskan.
“Makasih yaa..” ujarnya
mengembalikan korek.
Aku hanya membalas
dengan senyum. Gadis itu sekarang duduk dekat disebelahku. Suasana menjadi
sedikit akward, ku coba membuka
percakapan.
“Jurusan apa?” tanyaku
sekenanya.
“Ekonomi, kalo lo?”
“Gue jurusan akuntansi”
“Oh, iya.” Dia menjawab
singkat dengan senyum yang sekarang lebih lepas ketimbang sebelumnya.
“Gue Dion, lo?” kuberikan
tawaran untuk berjabat tangan,
“Gue Sidra” ia membalas
jabatan tanganku.
Kali pertamanya aku
berkenalan dengan gadis yang notabenenya bukan teman sekelas ku. Tidak terlalu
buruk nampaknya.
“Rokok gak?” Sidra
menawarkan rokok padaku.
“Iya, makasih.” Aku menolak
halus. Bukannya tidak mau, tapi aku malu untuk menerimanya.
Tidak banyak yang bisa
aku ajukan sebagai pertanyaan untuk mempertahankan pembicaraan ini. Aku memang
masih baru dalam dunia wanita. Kadang aku tidak tahu harus berkata apa agar
bisa terlihat menarik di mata kaum hawa.
Bus yang kami tunggu
akhirnya tiba. Tidak tahu apa yang merasuki, aku enggan beranjak. Aku ingin
duduk bermalas malasan saja disini. Tidak ada apa apa memang, hanya lansekap
jalan yang bisa aku lihat, tapi aku sungguh menikmatinya.
Sidra berdiri. Lalu menoleh
kearahku yang masih saja tidak merubah posisi.
“Enggak naik ke bis?”
“Enggak deh kayaknya,
males, pengen disini aja” aku menggeleng.
Sidra hanya tersenyum. Dia
kembali duduk.
Bus berhenti. Kerumunan
mahasiswa turun lalu pergi. Bus berjalan kembali sampai hilang dari pandangan.
“Loh, gak jadi naik
bisnya?” penasaran aku pada sikapnya yang seperti ingin tetap disitu
menemaniku.
“Males, sama kayak lo…”
cengirnya setengah tertawa.
“Emang mau kemana?
Kosan?”
“Iya…Males tapi, gak
ada kerjaan juga di kosan, kalo lo?”
“Sama!”
Lalu kami tertawa. Lupa
mungkin jika kami baru berkenalan tadi, lima belas menit yang lalu. Tapi memang
Sidra ini berbeda rasanya dibanding gadis gadis yang aku kenal di kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar