Sabtu, 12 Mei 2012

Alunan Mentari #5


This guy is miserable.

Aku punya kebiasaan buruk mengamati orang hingga detail terkecil. Kebiasaan buruk ini sudah membuatku cukup sulit berteman, karena terlalu banyak yang bisa kudapat dari sekedar pengamatan singkat.

Aku bisa mengenali seorang pembohong ulung hanya dengan mengamati gerakan matanya selama semenit.

Tapi Dion... Rasanya tidak buruk untuk dijadikan teman, meski ada sesuatu yang terasa muram dari pembawaannya.

“Emangnya nggak ada kuliah?” tanyaku menyelidik.  Alasan Dion duduk melongo memandangi Prisci tadi masih menggelitik untuk kuketahui.

“Ada sih, harusnya. Tapi batal.”

Aku tertawa. “Dosen emang suka seenaknya. Makanya, gue juga seenaknya.”

Dion mengangkat sedikit alisnya. Seperti ada kata-kata yang ia tahan.

“Apa?” tanyaku. “Kenapa ekspresi lo begitu?”

“Hmm...,” Dion ragu sejenak. “Kasian yang capek-capek bikin peraturan kalo semua orang akhirnya seenaknya.”

“Harusnya lo tanya dulu sama yang bikin peraturan. Mereka sendiri nepatin peraturan, nggak?”

Dion tersenyum. “Iya juga, sih.”

Sopan benar anak ini. Nggak seru. Langsung sok setuju.
Yang begini, sasaran empuk untuk dikerjai.

“Prisci cantik, ya?” ujarku usil, sengaja tanpa ekspresi.

“Hah?” Dion melongo. Tidak siap menerima pertanyaan demikian. “Prisci siapa?”

Aku mengangkat kedua alis. “Jadi dari tadi lo ngeliatin dia tanpa tau namanya? Duh, nggak ada kerjaan lain selain jadi pemuja rahasia?”

Wajah di depanku serta merta berubah merah. Lucu sekali memang anak ini. Ada tulisan ‘ANJING, KETAUAN!’ yang tak kasatmata.

“Namanya Prisci. Anak Ekonomi juga, kayak gue. Belum punya pacar. High-class. Tipe-tipe sosialita gitu," lanjutku, menikmati.

“Oh,” Dion menelan rasa malunya dengan segenap usaha. Telinganya masih merah. “Temen lo?”

“Musuh, lebih tepatnya,” ucapku seadanya.

Dion menoleh, heran. “Kalo musuh, kok kenal banget?”

Aku nyengir. “Keep your friends close and your enemies closer, kalo kata Sun-Tzu.”

Sebatang rokok sudah jadi korban percakapan kami. Mungkin sudah waktunya pindah tempat.

“Yakin nggak mau kemana-mana?” tanyaku. “Gue kayaknya mau mulai bergerak.”

Dion menggeleng. “Lo jalan kaki aja?”

“Lebih sehat, kan?” ujarku simpel. Aku berdiri, menyandangkan tas di bahu kiri, kemudian melambai. “Duluan, Yon.”

Dion membalas lambaianku. Sebenarnya kasihan juga dia. Baru beberapa menit jadi kenalanku, tapi sudah kena imbas jahilnya aku.

Tiga langkah kemudian, aku jadi mengasihani diri sendiri.
Aku salah arah. Seharusnya jalan ke kiri saja tadi.

Prisci baru saja keluar dari dalam fakultas, bersama seorang pria yang rasanya dulu pernah beberapa kali ikut bergabung dengan kelompok teman wanita Prisci. Aneh. Kenapa tuan putri yang satu ini mau jalan kaki sebegini ‘jauh’?

Kami bertukar pandang saat berpapasan. Menyampaikan rasa tidak suka masing-masing dengan segenap niat.

If looks could kill.

Beberapa langkah kemudian, aku menoleh ke belakang. Prisci dan lelaki tadi duduk di halte. Prisci tepat di samping Dion yang ekspresi wajahnya seolah diajak bicara presiden amerika serikat.

Tawaku pasti terdengar oleh mereka. Mau bagaimana lagi. Ini lucu.

Good luck, brother.


post by @azkashabrina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar