Jumat, 04 Mei 2012

Alunan Mentari #2


Apaan sih. Kenapa harus ada dia? Mimpi apa aku semalam.

Sambil menahan diri agar tidak menggerutu, aku meneruskan langkah memasuki kantin, dengan cepat memesan kopi, memilih meja sejauh-jauhnya, kemudian duduk.

Perempuan yang duduk empat meja di depanku itu namanya Prisci. Aku tahu benar dia tidak menyukaiku, begitu pula aku padanya. Kami berada di dunia yang berbeda, dan entah mengapa saling membenci karena itu.

Well, sebenarnya sih aku cuma benci dia karena sombongnya. Yang bener aja. Anak ini selalu cari masalah denganku setiap ada kesempatan. Dugaanku, dia berlaku demikian karena kami sama-sama perempuan namun tidak menganut paham yang sama.

Maksudku, aku tidak suka rok dan sepatu hak tinggi seperti dia.

“Nih Ra, kopinya,” Gundul, salah seorang penjual minuman di kantin yang akrab denganku, menyodorkan secangkir kopi hitam yang masih berasap.
Senyumku terkembang seketika. “Makasih Gun!”

Ah, sudahlah. Buat apa buang-buang waktu mengutuk Prisci dalam hati. Dia terlalu putih untuk menemani secangkir kopi!

Sambil menahan tawa konyol akibat pikiran nyeleneh tadi, kurogoh saku celana untuk mengeluarkan sebungkus rokok. Teman yang paling cocok untuk kopi itu ya cuma rokok...

Loh, kemana korek apinya?

Sial. Hilang.

Aku mulai celingukan mencari sumber lain untuk mendapat api. Tidak lucu. Sungguh bukan situasi yang lucu ketika perokok kehilangan korek api, tetapi punya sebungkus rokok. Aku harus mendapatkan api, meskipun harus menggesekkan dua buah batu.

Untungnya ada sesama perokok. Duduk tak jauh dari... meja Prisci.

Setengah enggan, aku bangkit dari mejaku dan menghampiri lelaki perokok itu. Dia sedikit terkejut ketika kusapa, sekaligus terlihat jengkel karena harus teralih dari buku yang dibacanya.

“Boleh pinjem korek?” tanyaku sopan sambil memberikan gestur dengan jemari.

Dia tidak bicara. Hanya menyodorkan korek dengan wajah jengkel, kemudian kembali kepada bukunya lagi.

“Makasih,” ucapku setelah rokok berhasil dinyalakan. Dia mengangkat kepala lagi, mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan lagi.

Bukan kepada buku. Tapi kepada... Prisci.

Hanya sekilas, tidak lama. Tapi gestur itu tertangkap olehku, lengkap dengan segala pernak pernik binar mata dan salah tingkah. Semua itu terlalu kentara hingga membuatku mampu menarik kesimpulan:
Pria ini jatuh cinta.

Aku kembali ke kursiku, geli. Hari masih begitu muda, namun sudah begitu menarik.

Ini baru pukul setengah sembilan. Maksudku bertandang ke kantin hanyalah untuk membuang jenuh. Tadi aku sudah masuk kelas, sudah tercatat hadir dalam absensi, dan aku bosan. Maka disinilah aku sekarang, bersama yang aku cari: kopi. Maaf, bukan bermaksud sombong. Tapi menurutku, buru-baru masuk kelas dan merelakan diri berjenuh-jenuh mendengar dosen bicara sama sekali bukan definisi cerdas.

Kalau cerdas harusnya tahu bahwa hidup semakin sulit, waktu semakin sedikit untuk segala hal, sehingga manusia butuh mencuri waktu. Meskipun cuma lima belas menit mencuri waktu tidur, atau sepuluh menit mencuri waktu untuk merokok, rasanya pasti berarti.

Dan ternyata yang berhasil kucuri bukan sekedar waktu. Aku juga sudah berhasil mencuri rahasia seorang pemilik korek api yang bahkan aku tidak ketahui namanya.

Ini lucu.

Biar kuanalisa lebih jauh lagi. Sepagi ini pria itu sudah ada di kantin, sendiri, membaca buku. Kemungkinannya ada empat; dia sengaja datang pagi karena ada janji sebelum kuliah dimulai dan sekarang sedang menunggu seseorang sembari menyicil materi pelajaran, dia sengaja datang pagi khusus untuk belajar, dia korban dosen yang semena-mena membatalkan kelas, atau dia sengaja datang untuk melihat Prisci.

Kalau yang benar adalah yang keempat, kupastikan hidup pria ini menyedihkan.


post by @azkashabrina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar