Tapi mood-nya sedang tidak untuk dibawa ke tempat ramai hari ini. Maunya sih pulang dan melakukan sesuatu sendirian, tapi apa?
Hmm... beli DVD mungkin ya?
Aku agak menyesal juga jalan kaki. Penjual DVD ada di belakang stasiun dan stasiunnya cukup jauh dari Fakultas Ekonomi. Mau ganti metode--naik bis--gengsi juga. Sudah setengah jalan.
"Sidra?"
Aku menoleh dan mendapati sebuah wajah yang mengundang sapaan hampa emosi: "Narda."
Kenapa harus bertemu dia. Dari sekian juta manusia yang berada di kampus ini, kenapa harus dia yang menyapa, di tengah perjalanan yang tadinya untuk bersantai tanpa memikirkan apa-apa?
"Mau kemana?" tanyanya, dengan senyum yang biasa, yang aku hafal benar, yang sempat tidak mau hilang meskipun berkali-kali berusaha kuusir beberapa bulan lalu---ah, sudahlah.
"Beli DVD," jawab sekenanya, senyum seadanya.
"Oh, gue mau pulang, ke stasiun juga... Bareng, ya?"
Terserah, terserah lo, emangnya lo berharap gue ngapain? Nolak? Ngajak? Minta--mohon ditemenin sambil nangis-nangis?
Kenapa jadi sewot begini? Sialan. Masih jauh, pula.
"Apa kabar, Dra? How's life?"
"Baik," paksakan senyum. Sulit. "Lo?"
"Baik, kok. Inget nggak, dulu gue pernah bilang mau coba apply jadi voluntir WWF buat proyek Save Borneo?"
"Iya, inget," --gimana bisa lupa?
"Gue kepilih," Narda berseri-seri. "Bulan depan berangkat."
"Wow, ke Borneo?" murni kaget dan kagum. "Selamat ya, Nar. Asik banget. Iri."
"Ikut aja, pake fee sendiri tapi yaa... Hehehe...," Narda terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang sempurna. Aku tidak bisa menahan senyum untuk pemandangan yang satu itu. Indah sekali.
Baiklah, biarkan aku mengakui satu hal ini saja: aku sangat kangen Narda. Dan pertemuan ini bisa jadi malah akan memperkuat rasa kangen begitu berpisah jalan nanti. Karena itulah, aku gusar.
"Udah punya cowok lagi belom lo?" tanyanya dengan nada seperti menanyakan kemarin di rumah lo hujan nggak?. Dengan nada seolah menanyakan sesuatu yang tidak terdengar seperti bom bagiku.
"Belom."
"Kok belom?"
"Ya belom aja," kemudian tergelitik untuk bertanya balik. "Lo pasti udah punya cewek lagi... ya?"
"Belom kok, tenang aja," kembali dengan senyum gigi putihnya.
Tenang aja.
Maksudnya apa--tenang aja? "Tenang aja, gue gay kok sekarang". Atau "tenang aja, gue pasti bakal bilang kalo udah jadian lagi". Atau "tenang aja, begitu gue jadian lo nggak akan gue sapa lagi kalo ketemu begini".
Atau... "tenang aja, gue belom bisa move-on kok dari lo"?
Pipiku memerah. Dasar otak bego. Dungu. Ngapain sih mikir aneh-aneh begitu? Jalan aja, jawab pertanyaan sekenanya, jangan mikir apa-apa. Begitu, supaya aman.
"Apa kabar, Dra? How's life?"
"Baik," paksakan senyum. Sulit. "Lo?"
"Baik, kok. Inget nggak, dulu gue pernah bilang mau coba apply jadi voluntir WWF buat proyek Save Borneo?"
"Iya, inget," --gimana bisa lupa?
"Gue kepilih," Narda berseri-seri. "Bulan depan berangkat."
"Wow, ke Borneo?" murni kaget dan kagum. "Selamat ya, Nar. Asik banget. Iri."
"Ikut aja, pake fee sendiri tapi yaa... Hehehe...," Narda terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang sempurna. Aku tidak bisa menahan senyum untuk pemandangan yang satu itu. Indah sekali.
Baiklah, biarkan aku mengakui satu hal ini saja: aku sangat kangen Narda. Dan pertemuan ini bisa jadi malah akan memperkuat rasa kangen begitu berpisah jalan nanti. Karena itulah, aku gusar.
"Udah punya cowok lagi belom lo?" tanyanya dengan nada seperti menanyakan kemarin di rumah lo hujan nggak?. Dengan nada seolah menanyakan sesuatu yang tidak terdengar seperti bom bagiku.
"Belom."
"Kok belom?"
"Ya belom aja," kemudian tergelitik untuk bertanya balik. "Lo pasti udah punya cewek lagi... ya?"
"Belom kok, tenang aja," kembali dengan senyum gigi putihnya.
Tenang aja.
Maksudnya apa--tenang aja? "Tenang aja, gue gay kok sekarang". Atau "tenang aja, gue pasti bakal bilang kalo udah jadian lagi". Atau "tenang aja, begitu gue jadian lo nggak akan gue sapa lagi kalo ketemu begini".
Atau... "tenang aja, gue belom bisa move-on kok dari lo"?
Pipiku memerah. Dasar otak bego. Dungu. Ngapain sih mikir aneh-aneh begitu? Jalan aja, jawab pertanyaan sekenanya, jangan mikir apa-apa. Begitu, supaya aman.
post by @azkashabrina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar